Padangsidimpuan


Berasal dari kata “padang(dataran luas)” dan “na (di)” “dimpu (tinggi)”, kota ini sudah ada sejak tahun 1700 an dan kemudian dibangun pertama kali sebagai benteng pertahanan 1821 oleh tuanku Lelo yang membentang dari sungai batang ayumi hingga sungai aek sibontar.*

Sejak tahun 1950, Padangsidimpuan adalah ibukota pemerintahan kabupaten Tapanuli selatan dan pada tahun 1982 kota ini berubah status menjadi kota Administratif berdasarkan PP no 32 tahun 1982. Kemudian sejak tanggal 21 juni 2001, kota padangsidimpuan berubah status menjadi Daerah otonom dengan 6 kecamatan.

Kota yang berpenduduk 201.000 ini terletak di posisi yang sangat strategis, karena merupakan persimpangan medan, sibolga dan padang. hal ini tentunya sangat mendukung perkembangan perekonmoian rakyat Padangsidimpuan yang sebagian besar bertani. tentunya tidak ada satu pun penduduk kota ini yang berprofesi sebagai nelayan, karena sidimpuan sama sekali tidak tersentuh oleh air laut.

tepat di titik nol kota ini, terhampar sebuah alun-alun 20 x 60 meter yang menjadi salah satu ikon kota yaitu alaman bolak. Alun alun yang mulai dibangun sejak 2001 ini, diresmikan oleh walikota pertama drs. Zulkarnaen Nasution,M.M. pada tanggal 31 desember 2004 yang secara simbolis juga menjadi hari jadi kota Padangsidimpuan.

Keberadaan alun alun ini kerap dijadikan sebagai tempat multievent mulai dari senam pagi tiap minggu, pentas minggu, pameran, orasi politik, perhelatan 17an, hingga tempat pelakasnaan berbagai upacara.

Layaknya sebuah kuali besar, padangsidimpuan merupakan sebuah lembah yang dikelilingi oleh beberapa gunung. puncak tertinggi yang mengengelilingi kota ini adalah puncak gunung lubuk raya yang berada 1825 meter di atas permukaan laut. Salah satu bukit yang mengengelilingi kota ini adalah bukit simarsayang yang juga merupakan obyek wisata alternatif untuk menikmati panorama kota.

wisata alternatif mungkin merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi pariwisata di kota ini. sangat sedikit terdapat objek wisata yang tersedia, sebut saja kolam renang dan 2 pusat pembelanjaan modern yang beralih fungsi menjadi tempat hiburan. kurangnya area pariwisata menjadi salah satu penyebab kurang dikenalnya nama kota ini di telinga para penikmat travelling. namun ada satu wisata agrikultur yang telah menjadi ikon kota ini selama berpuluh puluh tahun. yap. apalagi kalau bukan salak.

Padangsidimpuan juga dikenal sebagai kota salak walaupun sebenarnya kota ini hanyalah tempat pemasarannya, bukan produsen salaknya itu sendiri. dengan rentang suhu 21-31′C, kota ini mempunya daerah penghasil salak seperti daerah sitinjak, panobasan, huta koje, batangtoru, sihopu, siapporik, dan huta lambung. karena berlimpahnya produksi salak, maka salak pun diproduksi menjadi beberapa bentuk seperti kurma salak, keripik salak, dodol salak, dan sirup salak.

kota yang mempunyai semboyan filosofis “salumpat saindege (Seayun selangkah)” ini mempunyai aset pendidikan tercatat TK sebanyak 13 unit, SD 91 unit, SLTP/MTs sebanyak 34 dan SMA/MA sebanyak 37 unit. ini merupakan investasi yang sangat berharga untuk mewujudkan salah satu cita-cita founding father kota ini sebagai kota pendidikan di kota padangsidimpuan. dimana salah satu syarat sebuah kota disebut sebagai kota pendidikan adalah tersedianya sarana dan prasarana menuntut ilmu dari jenjan PAUD hingga studi pasca-sarjana. indikasi tersebut mungkin masih lemah, karena hanya terdapat 10 PT dengan STAIN sebagai satu-satunya institusi negeri dan Universitas Graha Nusantara sebagai universitas swasta yang sedang on the track menuju PTN.

semoga sidimpuan menuju pembaruan tidak hanya adminsitratif, tapi juga biroktat, perekonomian, kesehatan, dan bidang pendidikan.

*)konon, nama mesji di pasar tradisional sangkumpal bonang di ambil dari pejuang perang paderi ini.

references :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Padang_Sidempuan
http://www.p2kp.org/wartaarsipdetil.asp?mid=3240&catid=2&

About rahmatnawisiregar

tidak ada sesuatu yang spesial dalam diri ini. masih begitu banyak hal yang perlu saya pelajari. menempatkan diri dalam kondisi kritis, keluar dari zona kenyamanan yang ada, dan yakin bahwa semesta akan mendukung
This entry was posted in padangsidimpuan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Padangsidimpuan

  1. alfan mubarak says:

    mantap Nawi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s