Ujian nasional


Image

 

 

 

UJIAN NASIONAL BERBELANG PEMERETAAN PENDIDIKAN

 

            Indeks perkembangan siswa Indonesiadari jenjang dasar hingga menengah sangatlah memprihatinkan. Hal ini terlihat dari hasil studi PISA (Program for International Survey Assessment) pada tahun 2009 yang menunjukkan bahwa  hasil belajar siswa Indonesia berada pada peringkat 72 dari 79 negara. Tidak hanya itu,, laporan dari TIMSSA (Trends in International Mathematics Science Study Advanced) tahun 2007 memberikan kita gambaran yang lebih tentang Indeks Perkembangan Siswa Indonesia yaitu 0,728 dan berada di peringkat 36 dari 59 negara.

            Dari dua hasil studi program internasional di atas, kita melihat sejak tahun 60 – 70 an, pendidikan bangsa ini selalu menunjukkan kurva menurun. Ini sungguh bukan menjadi harapan para founding father pendidikan kita yang telah memperjuangkan nasib pendidikan tunas bangsa dari belenggu kolonialisme.

            Semenjak era reformasi, Pendidikanindonesiayang telah mati suri seperti mendapatkan momentumnya kembali. Hal ini dapat kita lihat dengan dikeluarkannya UU No 20 tahun 2003 bahwa pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya system pendidikan sebagai pranata social yang kuat dean berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia yang berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

            Selanjutnya, dalam rangka pembaharuan system pendidikan nasional, UU No 20 tahun 2003 juga mengamanatkan beberapa strategi, diantaranya : pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia ; pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi; proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis; evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi pendidikanyang memberdayakan; peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan; penyediaan sarana belajar yang mendidik; pembiayaan pendidikan yang seusai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan; penyelenggaran pendidikan yang terbuka dan merata; pelaksanaan wajib belajar; pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan; pemberdayaan peran masyarakat; pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat dan pelaksanaan pengawasan dalam system pendidikan nasional.

            Dari UU ini lalu menyeruaklah ide Ujian Akhir Nasional yang menggantikan EBTANAS (Evaluasi Belajar Nasional) sejak tahun 2003 yang menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar kalangan pelajar hingga sekarang. Bagaimana tidak, UAN menjadi sosok hakim yang siap menghukum setiap pelajar yang tidak mau curang pada pelaksanaan ujian. Menghukum pelajar yang tidak mau curang? Apa pasal?

            Saya disini tidak ingin menyalahkan pelajar atau siapapun pihak yang bersinggungan langsung dengan ujian ini. Saya juga tidak mau menyalahkan UAN sebagai kambing hitam atas segala kekacauan ini. Namun system lah yang berperan penting dalam masalah ini.

            System seperti apa? Saya kemukakan sebuah bukti bahwa Finlandia sebagai salah satu dengan Pendidikan nomor wahid seantero jagad raya menggunakan UAN sebagai evaluator Departemen pendidikan nya. Apakah departemen yang bersangkutan telah berhasil menjalankan pendidikan untuk anak didik nya atau tidak, bukan malah siswa yang jadi korban akan system ujian nasional di negeri kita ini.

            Bayangkan, dengan materi ujian yang sama, tingkat kesulitan yang sama, di distribusikan ke seluruh pelosok negeri yang mempunyai kualitas pendidikan yang tidak merata. Bayangkan, pendidikan anak ibukotadengan pendidikan di pelosok yang tidak perlu dijelaskan lagi alasan atas ketidakmerataan ini harus dipaksakan sama.

            Sudahlah. UAN bukan cara yang bagus untuk melihat apakah pemerataan pendidikan telah tercapai atau tidak. Karena kita tahu, kecurangan seluruh stake holder pendidikan selalu terjadi tiap tahunnya dan ketidakjujuran ini dianggap tidak terjadi sama sekali.

Image

            Saya juga merupakan produk dari ketidakjujuran itu. Saya mengenyam pendidikan di madrasah aliyah selama 3 tahun. Sekolah yang selalu menekankan aspek keagamaan dalam setiap kegiatan sehari-hari nya dan menjunjung tinggi kejujuran. Lalu ketika waktu ujian tiba, maka seluruh atribut keagamaan itu seakan ditelanjangi. Lalu dimana lagi letak Ketuhanan kita tempatkan ketika kita dihadapkan dengan ujian ini?

            Saya yakin. Mendikbud juga tahu akan ketidakjujuran ini dan berpura-pura untuk menutup mata dan berkata bahwa pelaksanaan UAN berlanjar lancer dan tidak ada kecurangan karena yang dikunjungi pada hari senin-kamis hanyalah sekolah unggulan diJakartayang dengan sengaja menyembunyikan itu semua.

            Lalu kenapa evaluasi kelayakan UAN  ini segera dilaksanakan? Kas Negara tiap tahun untuk pelaksanaan UAN dialihkan untuk pemerataan pendidikan di daerah pelosok sana? Lalu kenapa UAN dihapuskan saja, lalu SNMPTN dibuat sebagai penggantinya? Atau kenapa UAN tidak dijadikan sebagai evaluator untuk Departemen Pendidikan seperti Finlandia, bukan sebagai hakim untuk siswa?

            Tiga hal diatas kiranya bisa jadi bahan pemikiran bagi kita masing-masing. Terima kasih.

Image

About rahmatnawisiregar

tidak ada sesuatu yang spesial dalam diri ini. masih begitu banyak hal yang perlu saya pelajari. menempatkan diri dalam kondisi kritis, keluar dari zona kenyamanan yang ada, dan yakin bahwa semesta akan mendukung
Aside | This entry was posted in pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s