Sinabung Merasakan Kami


Ini adalah catatan tentang perjalanan menuju puncak tertinggi di Sumatera Utara. Tulisan ini saya ambil dari Notes teman saya bernama Khadafi di facebook. cekidot.

Gambar

Belum pernah terfikirkan sebelumnya kalau kami akan mencoba menaklukkan gunung Sinabung tanpa memakai guide yang berpengalaman. Guyonan di sebuah status “buku wajah” berakarkan komentar yang cukup panjang adalah penyebab munculnya niatan untuk menerawangi gunung yang perkasa itu. Kalian akan tahu kenapa kusebut perkasa jika kalian tidak kalah melawan kantuk di dalam angkot Takashima atau Rio dalam perjalanan menuju Lau Kawar, kaki gunung Sinabung, di siang atau malam purnama yang cerah. Memandang ke jendela terlihat menjulang dengan gagahnya Sinabung yang bertopikan awan tipis yang mencul dari kawah puncak tertinggi Tanah Karo. Bagaikan menantang kita dengan sombongnya, “Ayo taklukkan aku!!”. Liburan kali ini membuat Khadafi, Reza Gama, Ilham Wiratno, Fikrizal, Luqmanul Hakim, Kurniawan Putra, serta bintang tamu Rahmat Nawi (hehe…) untuk mencoba menjawab tantangan sang gunung berapi. Muhammad Safira, si anak rimba yang sudah berteman dekat dengan Sinabung, awalnya akan kami angkat sebagai pembawa jalan kami mendaki kesana. Namun, tidak semua orang memiliki waktu luang yang sama. Anak rimba itu punya kesibukan lain di waktu pendakian kami yang tidak bisa dirubah lagi. Keadaan sempat labil, ketika sang Ranger tidak bisa ikut. Tidak ada yang membawa jalan kami. Dari tujuh orang pertama tadi, hanya aku yang punya jam terbang paling sering ke sinabung, sebanyak dua kali. Dan ketika kesana selalu berada di urutan kedua dari belakang. Karena itu aku belum cukup nekat untuk membawa anak-anak orang yang masih lugu ini melewati hutan dengan aroma mistis yang cukup kuat, dengan resiko nyasar hingga hutan perbatasan ribuan hektar luasnya. Sementara dari 6 orang tersisa hanya luqman dan fikri yang pernah satu kali kesana. Pendakian pun terancam batal. Motivasi dari Reza merubah pikiranku, “udah daf bawa aja, kalo nyasar kita balek lagi. Kok payah..” Simpel namun mematikan. Membuat semangat yang semula bagaikan benang basah mampu tegak lagi bagai batang tebu. Sms pun kembali disebar, dengan harapan puncak adalah tujuan utama, tapi nyasar adalah keniscayaan. Sabtu 25 Juni 2011, menurut sms yang sudah ku kirim, jam 2 siang adalah jadwal keberangkatan dari Medan ke Berastagi. Tapi dasar orang Indonesia, jam karet lebih dominan disini. Lukman misalnya, dia memang berangkat jam 2 siang, tapi dari Berandan. 82 kilometer lagi menuju Medan. Ngaretnya bagai ban Swallow kualitas sedang, 3,5 jam setelah jam 2 siang baru kami berangkat dari terminal Sutra. Kepergian sore itu cukup berkesan bagiku. Setelah hampir 3 bulan lebih aku tidak berkumpul dengan mereka, akhirnya sore itu kami bisa berkumpul lagi, di atas atap Sumatra Transport. Jam 8 malam lewat dikit kami sampai di pajak berastagi, langsung ke simpang jalan menuju Lau Kawar. Di jam segitu, sangat susah menemukan angkot yang rela membawa penumpang ke Kawar. Kalaupun ada angkot yang lewat, butuh kemampuan tawar menawar ekstra tinggi sekelas emak-emak yang hobi shopping di pajak yang bisa meluluhkan hati si sopir angkot dengan ongkos yang murah. Sementara kami harus secepatnya sampai ke Kawar agar bisa beristirahat sejenak sebelum mendaki. Kami sadar tidak punya kemampuan itu. Hanya modal muka memelas yang kami punya. Akhirnya setelah beberapa angkot yang tidak terpengaruh dengan wajah polos kami, muncullah angkot penyelamat dengan sopir yang baik hati yang sebenarnya dia mau pulang ke rumahnya yang sudah dekat, rela menempuh jalan 1 jam lagi hanya untuk mengantar kami yang sudah kelaparan. Semoga perjuanganmu menunda pulang ke rumah tidak sia-sia pak sopir. Kan kami bayar 70ribu. Udah jam 12 malam. Setelah makan malam dan beristirahat di warung bang Bolang, pendakian dimulai. Aiih,, pas keluar dari warung dinginnya Masya Allah, anginnya pun ntahapa kencang kali. Tapi mau ga mau jalan harus dilanjutkan. Tujuh orang tanpa guide yang berpengalaman dengan pasrah memasuki pintu rimba gunung Sinabung. Fikri yang pertama memimpin kami berjalan di tengah hutan. 50 menit berjalan aku terkejut melihat tempat yang sepertinya aku kenal. Ternyata benar, kami sudah sampai di shelter 1. Alhamdulillah,,, pencapaian yang luar biasa. Baru sampe disitu awak udah lebay, gimana kalo nyampe puncak nanti ya. Masih ada 3 shelter lagi yang harus dilewati. Aku mulai memimpin jalan ketika akan memasuki shelter 3. Aroma mistis begitu terasa di hutan ini. Sementara suara angin bergemuruh menerjang pepohonan di atas kami. Lagi konsentrasi membawa jalan, tiba-tiba terdengar suara jelek dari bahu kiriku, “Haaaammm….”, Mati aku, suara apa ni? Kalo suara Fikri ga mungkin sedekat ini. Udalah lanjot aja, ngertinya awak kalo sekarang lagi di kampung orang. Biasa tu. Jam 3 pagi sampailah di shelter 3, shelter Pandan. Hawa dingin semakin terasa menembus bajuku yang cuma 2 lapis. Api adalah barang yang sangat berharga disini. Betapa tidak, tujuh orang rela desak-desakkan untuk merasakan hangat dari api sekecil kotak korek api. Hujan baru turun, susah mencari bahan bakar. Daun pandan lembap harus dipanaskan dulu baru bisa menjadikan api yang cukup besar. Api menjadi suatu idola baru disini. Mengalahkan biskuit yang sengaja dibuka untuk diambil bungkusnya agar bisa dijadikan bahan bakar, sementara biskuitnya dibiarkan begitu saja beralas kertas di tanah yang lembap. Jam 4 pagi, kali ini adalah dinding cadas yang terjal harus dilewati. Batu dan tanah dingin menjadi pegangan. Di atasnya sudah menanti puncak Sinabung. Tempat impian kami pada saat itu. Kabut tebal menghalangi pandangan untuk melihat pemandangan lampu-lampu rumah di bawah kami. Jam 5.20 pagi waktu di hape ku, kami sudah sampai di tempat yang cukup terbuka di dekat puncak yang tinggal beberapa meter lagi. Adzan subuh dikumandangkan di tempat ini oleh Nawi. Suara merdunya sengaja kurekam di hapeku. Suara adzan yang, jujur saja, menggetarkan dadaku pada saat itu, adzan Subuh bergema di tengah kabut sekitar puncak Sinabung. Shalat berjama’ah beralaskan mantel, beratapkan langit, berselimut kabut, bergetar suara imam fikirizal melawan hawa dingin yang menyulitkan untuk berdiri tegak tanpa menggigil. Seusai shalat, kami sudah tidak sabar untuk berlari mendaki puncak. Aku menjadi orang pertama yang sampai di puncak Sinabung di hari itu. Luapan kebahagiaan tak terbendung lagi. Teriakan sekuat-kuatnya melepaskan emosi di dada para pendaki. Bergantian berdiri di atas pilar, simbol bahwa kami mampu berdiri lebih tinggi dari gunung ini. Pada hari itu, kami berhasil menjawab tantangan sang penyangga langit. Hadiahnya adalah matahari kuning yang muncul perlahan di ufuk timur yang luar biasa. Tidak tahan jari ini untuk tidak mengabadikannya dalam sebuah foto. Matahari terindah yang belum pernah dilihat sebelumnya. Benar-benar sunrise yang sangat berbeda jika dirasakan dari Berandan atau Marelan. Sinabung berhasil ditaklukkan tanpa guide yang berpengalaman…^.^

Gambar

About rahmatnawisiregar

tidak ada sesuatu yang spesial dalam diri ini. masih begitu banyak hal yang perlu saya pelajari. menempatkan diri dalam kondisi kritis, keluar dari zona kenyamanan yang ada, dan yakin bahwa semesta akan mendukung
This entry was posted in Socialife. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s