The Act of Killing


Gambar

Film yang disutradarai oleh Joshua oppenheimer ini mengungkap kembali pembantaian massal pendukung PKI (Partai Komunis Indonesia) yang ada di Sumut pada tahun 1965-1966. Film yang mengambil syuting di Sumatera Utara ini sontak menjadi buah bibir baru-baru ini setelah penayangan trailer di internet sejak 28 Agusutus 2012. Seolah membangunkan kembali fakta salah satu kejahatan terburuk yang pernah ada di negeri ini, film yang diangkat dari pengakuan seorang Anwar Kongo (salah satu algojo penumpasan PKI) akan diputar di Festival Toronto Kanada pada sabtu (8/9) dan senin (10/9).

Indonesia sejak awal abad 20 telah dimasuki ajaran marxisme yang tidak mengakui akan eksistensi Tuhan dan terus berkembang hingga pada tahun 60-an. Lalu pada tahun 1965, terjadilah penculikan terhadap petinggi TNI AD dan pembunuhan yang dilakukan di Lubang buaya. Pembunuhan yang terbilang sadis (menyayat para jendral dengan pisau silet) ini menjadi tonggak bangkitnya perlawanan terhadap PKI. Pemuda Pancasila adalah salah satu organisasi yang paling menonjol untuk memberantas partai ini, terutama di medan. 

Jika PKI membunuh para anti PKi dengan cara yang sangat sadis, maka sebaliknya, yang dilakukan oleh Anwar Kongo dan kawan-kawan adalah pembunuhan yang lebih manusiawi yaitu dengan tembak mati. Adapun alasan kenapa sejarah ini begitu kontroversial adalah pembantaian kaum PKI oleh militer tanpa peradilan.

Film ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa pembantaian itu memang pernah adanya dan tidak bisa dihapuskan begitu aja. Sebagai salah satu sejarah yang mempunyai banyak trik dan intrik, seharusnyalah sejarah ini lebih dimunculkan ke permukaan agar nantinya anak cucu kita tahu dan paham akan bahaya paham ini.

About rahmatnawisiregar

tidak ada sesuatu yang spesial dalam diri ini. masih begitu banyak hal yang perlu saya pelajari. menempatkan diri dalam kondisi kritis, keluar dari zona kenyamanan yang ada, dan yakin bahwa semesta akan mendukung
This entry was posted in pendidikan. Bookmark the permalink.

15 Responses to The Act of Killing

  1. alfiannur syafitri says:

    Pak Anwar Kongo ini hanyalah sumber petunjuk untuk mengetahui kondisi yang terjadi di Medan priode 1962-1967. Satu-satunya tokoh sentral yang dapat menjadi narasumber utama adalah H. Yan Paruhum Lubis alias Ucok Majestik dan atas pengabdiannya pernah mendapat status tempat ditembak oleh pihak kepolisian saat itu karena selalu menggagalkan aksi-aksi anarkhi sepihak PKI, Ucok Majestik saat ini diangkat sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila Indonesia. Sosok yang pernah disebut PKI dan massanya sebagai Setan Kota ini dihari senjanya sibuk mendirikan mesjid dan tetap vokal dan kritis terhadap ketidak adilan dan penyelewengan yang dilakukan para aparatur negara. Kasihan Joshua hanya dapat penggalan2 cerita dan menganggap telah mendapat data dan fakta padahal hanyalah rekaan semata

  2. alfiannur syafitri says:

    Pak Anwar Kongo hanyalah sumber petunjuk yang tidak dapat dijadikan sumber utama dalam kondisi di Medan Priode 1962-1967. Film Joshua merujuk pada peristiwa Kampung Kolam yang terjadi pada 24 Oktober 1965. kurun 1962-1967, Pemuda Pancasila kehilangan 9 anggotanya yang tewas akibat bentrok dengan PKI dan massanya. Kampung Kolam adalah perladangan terlantar didaerah pelosok yang dijadikan tokoh-tokoh PKI seperti Wariman(Ketua PKI Simalungun yang terlibat peristiwa Bandar Betsi hingga tewasnya Pelda Sujono), Overstee Maliki(Komandan Brigif VI Rimba Raya), Jalaluddin Yusuf Nasution(Ketua SOBSI Sumut)Sekretarisnya Paris Pardede, menjadi basis terakhir PKI setelah gagalnya G30S/PKI. 29 September 1965(malam)PKI menggantung dan menyalib anggota Pemuda Pancasila bernama Bakti Lubis di Padang Bulan Way, gerah karena pagi harinya saat Subandrio berkunjung ke Medan, ketika mendarat di Bandara Polonia, Subandrio disambut oleh massa Pemuda Pancasila dipimpin Yan Paruhum Lubis alias Ucok Majestik atau Setan Kota yang mendapatkan status tembak ditempat dari aparat kepolisian saat itu karena selalu menggagalkan aksi anarkhi sepihak PKI, dengan yel…yel…Hidup Pancasila……….

    • LIbre says:

      “Pemuda Pancasila kehilangan 9 anggotanya yang tewas akibat bentrok dengan PKI dan massanya”.

      Jadi, tewasnya karena bentrok kan, bukan karna dibantai oleh PKI?! Kalo emang bentrok, berarti pihak yang bentrok itu saling baku hantam dalam situasi yang berimbang. Berarti PKI gak membantai orang kan.

      LOL…mas..mas…kalau mau membual pake syarat-syarat propaganda, yang bener dong make konteks kalimatnya, jadi pembaca awam kayak saya gampang dibodohi. Propagandis kok gak lebih pinter dari orang awam! payah lu!

      Dan lagi, gue heran sama elu, emang kenapa rupanya kalau Pak Anwar yang jadi narasumber utama? Dan cobalah buktikan kalau pak Anwar itu bohong, bahwa dia gak pernah membantai orang-orang PKI? dan buktikan kalau emang gak pernah ada pembantaian terhadap orang-orang PKI di sana? sanggup? paling enggak biar masnya keliatan pinter gitu.

  3. Beberapa hal yang saya kira perlu diluruskan:
    – Marxisme adalah salah satu aliran teori dalam ilmu ekonomi dan politik, tidak mengurusi pengakuan terhadap eksistensi Tuhan.
    – Pembunuhan jenderal di Lubang Buaya dilakukan oleh sekelompok tentara di bawah pimpinan Letkol Untung yang menyebut kelompoknya sebagai Gerakan 30 September atau G-30-S.
    – Menurut hasil otopsi tim kedokteran yang ditunjuk oleh Soeharto sendiri, tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan, sayatan silet, atau bekas siksaan lain pada jenazah jenderal yang terbunuh dalam G-30-S.
    – Eksekusi yang dilakukan Anwar Congo dan kawan-kawan bukan dengan tembak mati, tetapi dengan kawat atas pertimbangan masalah kebersihan.
    – Pembunuhan dengan cara apapun, tanpa keputusan pengadilan, di luar keadaan perang, pada seseorang yang tak bersenjata dan tak melawan, juga tanpa memberikan kesempatan untuk membela diri atau menjelaskan duduk perkaranya, tidaklah manusiawi.

    Saya setuju dengan paragraf terakhir:
    “Film ini bisa menjadi salah satu bukti bahwa pembantaian itu memang pernah ada dan tidak bisa dihapuskan begitu aja. Sebagai salah satu sejarah yang mempunyai banyak trik dan intrik, seharusnyalah sejarah ini lebih dimunculkan ke permukaan agar nantinya anak cucu kita tahu dan paham akan bahaya paham ini.”

    • Kalimat bentrok yang saya pakai rasanya untuk lebih fair daripada dibantai, karena ketika itu anggota PP juga melakukan perlawanan. Tokoh yang bicara adalah orang yang mengalami langsung detik-detik peristiwa saat itu, pendiri dan langsung membentuk Pemuda Pancasila bersama Alm. Kosen Cokrosentono dan HMY Efendi Nasution atau Fendi Keling. Anwar Kongo sendiri setelah era orde baru mendekatkan diri kepada Fendi Keling. dalam era 80-90 Anwar Kongo merupakan manajer salahsatu hiburan malam di Medan bernama Sambrero. Kebenaran pasti akan terbuka, tapi kebohongan dan propaganda walaupun mengesankan pada awalnya, hanya menyisakan bau busuk pada klimaknya. Tempo sudah memuat hak jawab dan bantahan. Dan hngga kini Joshua Oppenheimer yang kami berikan tembusan soal bantahan itu, tidak ada membuat apapun dimedia tadi, kecuali membuat gosip-gosip di jejaring sosial.

  4. Susi Widodo says:

    Rasanya sudah menulis komen. Tapi belum tampil?

  5. alfiannur syafitri says:

    jangan mengaburkan sejarah om, orang komunis apakah kiblatnya Yugoslavia, Cina, Rusia,atau Kuba adalah Komunis, Marxis adalah jalan awal menuju kepuncak kejayaan yakni Komunis, om lupa atau mau membuat kami lupa ya, kami yang bodoh ini jangan dibodoh-bodohi lagi dunk om

    • Suardi Taslim says:

      Kalau sudah tahu bodoh, ya belajar. Jangan menelan mentah-mentah propaganda Orba tanpa saringan kritis.

      Apa sih puncak kejayaan komunis? Emang buku apa tentang Marxisme atau komunisme yang sudah kamu baca? Buku penataran P4 terbitan Orde Baru?

      Coba tulis di sini daftar buku yang sudah pernah kamu baca.

      Kamu sadar nggak sih udah dibikin amnesia dan nggak tahu apa-apa soal filsafat dan sejarah sama Orde Baru?

    • Salam Bombay says:

      Kalo sadar bodoh, ya belajar dong. Jangan mengulang-ulang propaganda Orba yang bodoh itu.

      Kamu itu yang dibodohi Orba mau aja.

    • Susi Widodo says:

      Ya ampun…. bodoh banget sih kamu ini?

      Kamu kan udah dihipnotis sama sejarah orde baru…. ck ck ck ck ck….

  6. alfiannur syafitri says:

    Fakta Kebohongan Joshua: 1. Anwar Kongo bukan bapak pendiri Pemuda Pancasila, orang yang diminta mendirikan PP di Sumut oleh Ny. Aminah Hidayat dan Jendral AH Nasution, adalah Kosen Cakrasentana, HMY Efendi Nasution alias Fendi Keling dan H. Yan Paruhum Lubis alias Ucok Majestik, dan saat ini yang masih hidup adalah Ucok Majestik atau yang dipanggil PKI dengan nama Setan Kota, dan atas pernjuangannya mempertahankan idiologi Pancasila ditahun2 sulit era 1962-1967 dijadikan sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila. Dalam synopsisnya Joshua mengakui, script film dan jalinan cerita berdasar keterangan Anwar Kongo dkk, artinya jika ternyata ada data dan fakta yang tidak sesuai dengan kondisi dan situasi semuanya adalah kekeliruan Anwar Kongo dkk. HMY Efendi Nasution saat itu menjabat sebagai Ketua PP Sumut, sementara Ucok Majestik sebagai Ketua Kubu Sumut(buruh) merangkap Kordinator PP Kota Medan, 3. Yang menguasai catut saat itu adalah Ucok Majestik karena dia yang mengamankan bioskop2 di Medan sejak tahun 1954, dan catut saat itu adalah pekerjaan, karena bioskop langka, dan yang ingin menonton sudah sangat banyak, ditambahi banyak pemuda-pemuda yang butuh pekerjaan. Catut di bioskop bukan gangster, tapi pekerjaan mereka, dan tidak ada hubungannya dengan mafia sebab tidak ada kriminal disana, buktinya salahsatu Ketua Ranting PP di Kesawan Nikolas Pulungan adalah pemilik sekitar 5 bioskop dari beberapa bioskop di Medan. Kehadiran mafia di Medan, dapat disebut sejak kehadiran judi, dan UCok Majestik sama sekali tidak pernah terlibat dalam kegiatan judi disepanjang hayatnya, Kasarnya, Joshua menyajikan khayalan dan imajinasi dari seseorang yang mengetahui sedikit situasi dan kondisi saat itu

  7. Berikut saya kutipkan Hak Jawab dan Bantahan H. Yan Paruhum Lubis atau Ucok Majestik kepada Redaksi Tempo, pekan lalu,

    Medan, 10 Oktober 2012
    Kepada Yang Terhormat,
    Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
    di-
    Kebayoran Centre
    Jl. Kebayoran Baru, Majestik
    Jakarta 12240
    red@tempo.co.id

    Saya yang bertanda tangan dibawah ini;

    Nama : H. Yan Paruhum Lubis alias Ucok Majestik
    Tempat, Tgl.Lahir : Sibolga, 22 – 12 – 1934
    Alamat : Jl. Melati Raya No. 4 Blok XIX Lingk. XI Helvetia-Tengah
    Medan, 20124
    HP : 081264408584
    Jabatan : – Majelis Pertimbangan Organisasi Majelis Pimpinan –
    Nasional Pemuda Pancasila.
    – Pinisepuh Pemuda Pancasila.
    – Mantan Ketua Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator
    Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Bersama surat ini menyampaikan Hak Jawab dan Bantahan sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999, Pasal 5: (1), (2), (3); Pasal 18: (2); Peraturan Dewan Pers No.9/Peraturan-DP/X/2008, dan Kode Etik Jurnalistik; terkait pemberitaan Majalah Tempo Edisi 1-7 Oktober 2012, karena terjadi pemberitaan yang tidak benar disebabkan kekeliruan dan tidak akuratnya fakta juga data dalam pemberitaan berjudul: Para Algojo 1965 Pengakuan Anwar Congo; Dari Serdang Bedagai Sampai Medan; Kol 2 Hal 113:

    “…………Anwar dikenal sebagai preman bioskop. Dia dulu menguasai pasar gelap karcis di Medan Bioskop. Oppenheimer menemukan bukti bahwa anggota pasukan pembunuh di Medan pada 1965 rata-rata direkrut dari preman bioskop”.

    “…………Mereka membentuk pasukan pembunuh yang terkenal dan ditakuti di Medan, yaitu Pasukan Kodok. Pasukan ini berada dibawah sayap pemuda partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, yang didirikan Jendral AH. Nasution: Pemuda Pancasila. Di Pemuda Pancasila Anwar bisa dikatakan salah satu pendiri dan pinisepuhnya”.

    Kemudian pada Kolom 3 Hal 113:

    “…………..Oppenheimer mempertemukan Anwar dengan kawan lamanya, Ibrahim Sinik, pemilik harian Medan Pos yang lantai atas kantornya sering digunakan Anwar untuk melakukan pembantaian”.

    Tidak akuratnya fakta dan data juga terjadi dalam judul berita, Algojo dan Narasumber Skripsi: Hal 116 Kolom 2; “Sikapnya ini berbeda jauh dibanding saat dia menjelaskan caranya menghabisi orang PKI. Dengan mengambil lokasi lantai atas kantor Medan Pos”.

    Meluruskan pemberitaan diatas bersumber pada Film The Act of Killing karya Joshua Oppenheimer yang mengambil setting dan latar belakang peristiwa demo Kampung Kolam pada 25 Oktober September 1965 (penggambaran dalam film tentang sebuah kawasan/perkampungan yang diserang massa Pemuda Pancasila dibantu tentara), dan Majalah Tempo memuatnya tanpa melakukan cek dan ricek ulang kepada saya sebagai salah satu pendiri(pembentuk) Pemuda Pancasila di Sumut yang masih hidup selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY. Efendi Nasution alias Fendi Keling, maka saya perlu memberikan hak jawab dan bantahan agar tidak terjadi pemberitaan yang tidak objektif, bias, serta pengkaburan dan pemutarbalikkan sejarah perlawanan masyarakat Sumatra Utara terhadap komunis ditahun 1965. Sekaligus membabi buta menuding organisasi Pemuda Pancasila dijadikan militer melakukan pembantaian massal masa Komunis di Sumatra Utara dan Kota Medan

    Tidak benar dan tidak ada sekelompok pembunuh yang mayoritas adalah preman bioskop, yang kemudian direkrut tentara dan disebut Pasukan Kodok di Sumatra Utara ataupun Kota Medan saat itu. Jika ada anggota Pemuda Pancasila yang direkrut untuk menjadi pembunuh dalam sebuah unit khusus yang disebut Pasukan Kodok, sebagai Ketua Kubu Pancasila Sumut serta Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan dimasa itu, tentunya saya wajib tahu terhadap keberadaan unit itu demikan juga siapa saja anggota Pemuda Pancasila yang direkrut didalamnya. Jadi keterangan seluruh narasumber Joshua Oppenheimer sebagaimana dituangkan dalam film The Act of Killing terhadap keberadaan Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan soal pembantaian massal yang dikordinir militer adalah keliru, bercampur fantasi dan euphoria serta tidak didukung fakta dan data yang terjadi saat itu.

    Jika disebut sebagai keterangan atau pengakuan pribadi dari seseorang maupun beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan dan pembantaian massal, dan mereka juga anggota organisasi Pemuda Pancasila, keterangan ini juga tidak dapat diyakini keakuratan fakta serta datanya, sebab tidak pernah ada pembantaian massal yang dilakukan dalam kantor Pemuda Pancasila. Apalagi saat itu, kantor dikawasan Pekong Lima, merangkap kantor Redaksi Harian Cahaya, juga kantor bersama IPKI Sumut dengan Ketua Kerani Bukit, Kantor IPKI Medan dengan Ketua Dana, Kantor Pemuda Pancasila Sumut dengan Ketua MY Efendi Nasution dan Kantor Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan, yakni saya, Yan Paruhum Lubis. Dan terakhir menjelang pecahnya peristiwa penculikan dan pembunuhan para jendral di Jakarta, menjadi Kantor Dastagor Lubis yang ditunjuk Partai IPKI Sumut menjadi Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan. Setelah sebelumnya kantor bersama kami adalah di Jl. Veteran(bersebelahan dan tidak telalu jauh dengan dengan Kantor Jl. Sutomo).

    Materi lain yang tak kalah pentingnya untuk dikoreksi dengan Hak Jawab dan Bantahan, yakni pembantaian dilantai atas kantor Harian Medan Pos. Kantor Harian Medan Pos saat ini berlokasi di Jl. Perdana 107-109 Medan, kantor dan nama Medan Pos baru ada sejak tahun 1973. Penulisan 9 Mei 1966 pada halaman satu bagian depan atas Koran Medan Pos, merujuk pada historis jika sebelum pengalihan kepemilikan kepada Ibrahim Sinik, koran bernama Sinar Pembangunan. Sebelumnya dimasa G-30/S media tadi bernama Harian Cahaya dan berkantor di Jl. Sutomo(Kantor Darah-Pekong Lima dalam dialog Anwar Congo saat berkeliling dengan mobil bersama teman-temannya), bangunan milik Kerani Bukit Ketua IPKI Sumut. Harian Cahaya saat itu dipimpin oleh Pemimpin Redaksi Arsyad Noeh(kerabat kandung Afnawie Noeh, Ketua BPRPI Sumut), dengan Sekretaris Redaksi So Aduon Siregar. Jadi jelas tidak pernah ada pembantaian di lantai atas kantor Harian Medan Pos sebagaimana ditulis dalam berita Tempo.

    Ketika Harian Cahaya masih terbit, AM. Sinnik(kerabat kandung Ibrahim Sinik, bertanggungjawab dalam pendistribusian media ini, sementara Ibrahim Sinik saat itu sebagai pentolan dan aktifis MURBA Sumut beraktifitas menangani usaha dagang keluarganya sebagai distributor buah-buahan di Medan. Jadi yang bersangkutan belum masuk dalam jajaran redaksi Harian Cahaya ataupun jurnalis Harian Cahaya.

    Hingga pemberitaan edisi Tempo terkait Film The Act of Killing, masih saya sendiri yang disebut sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, kehormatan itu diberikan organisasi untuk mengenang sejarah eksistensi Pemuda Pancasila menghadapi panasnya bara Komunis di Indonesia, juga di Sumatra Utara dan Kota Medan kurun 1963 -1967, khususnya pengorbanan 9 orang anggota Pemuda Pancasila yang dibantai Komunis dalam priode itu. Serta melihat fakta hingga saat ini tinggal saya sendiri pendiri Pemuda Pancasila di Sumatra Utara dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution.

    Untuk membantu Redaksi Tempo memahami Hak Jawab dan Bantahan, akan saya berikan kronologis peristiwa yang terjadi yang menjadi satu kesatuan yang utuh dalam Hak Jawab dan Bantahan, dan kewajiban Redaksi Majalah Tempo memuatnya secara utuh. Hak Jawab dan Bantahan saya juga harus dimuat di group Majalah Tempo, yang juga ikut menyiarkan pemberitaan dari Film The Act of Killing, sebagai bentuk permintaan maaf dari Redaksi Majalah Tempo lalai hingga meloloskan berita yang tidak benar, karena tidak akuratnya fakta dan data yang disajikan serta cenderung keliru kepada khalayak tentang Pemuda Pancasila. Hingga cenderung menyesatkan publik, masyarakat yang selama ini menjadi pembaca setia-termasuk saya pribadi yang juga pembaca setia Majalah Tempo.

    Pemuatan secara utuh Hak Jawab dan Bantahan sekaligus kronologis yang saya informasikan, sekaligus untuk koreksi adanya unsur plagiat yang dilakukan Redaksi Majalah Tempo, dengan memuat informasi yang ada dalam The Act of Killing dalam berbagai artikel yang berhubungan dengan pemberitaan dengan Judul Utama: Pengakuan Algojo 1965 dan dipecah menjadi sub-sub judul seperti tersebut diatas, menjadi seolah-olah adalah reportase Jurnalis Majalah Tempo, padahal adalah petikan-petikan dari synopsis Film The Act of Killing dan pernyataan Joshua Oppenheimer. Lalu disiarkan untuk publik tanpa konfirmasi kepada saya sebagai pihak yang mengetahui kronologis peristiwa perlawanan masyarakat Sumatra Utara dan mau tidak mau melibatkan Pemuda Pancasila terhadap Komunis dimasa itu, termasuk peristiwa Demo Kampung Kolam. Bila Redaksi Majalah Tempo tidak memuat Hak Jawab dan Bantahan saya ini secara utuh, saya dengan sukarela akan menyelesaikan permasalahan ini melalui jalur hukum, baik secara pidana ataupun perdata sebagaimana diatur oleh UU Pokok Pers.

    Berikut akan saya terakan kronologis fakta dan data yang saya jalani agar Redaksi Majalah Tempo dan masyarakat mengetahui kondisi yang sebenarnya;

    Tahun 1954: Setelah menjatuhkan Pak Mamat yang terpeleset dari tangga Bioskop Majestik saat berusaha menampar saya, karena menanyakan mengapa Pak Mamat memukuli Entong, teman saya yang ingin masuk kedalam pembukaan bioskop paling megah di Kota Medan saat itu, saya dipanggil dengan sebutan Ucok Majestik. Sejak peristiwa itu, saya dipercaya beberapa pemilik bioskop di Medan menjalankan dan mengamankan operasional bioskop-bioskop di Medan, termasuk Bioskop Majestik yang saat itu adalah milik seorang turunan bernama A Hwat.

    Maret 1962: Sekretaris IPKI Sumut Kosen Cokrosentono yang juga Kepala Penerangan Propinsi Sumut, sekaligus guru pengajar Pancasila di era Presiden Soekarno, bersama Ketua II Partai IPKI Bidang Pemuda MY. Efendi Nasution membawa saya ke Jakarta untuk bertemu Ratu Aminah Hidayat di Menteng Raya 70, dan bertemu Jendral AH. Nasution di Cijantung. Ratu Aminah dan Jendral AH. Nasution minta kami membentuk karyawan IPKI(sayap partai), seperti Kubu Pancasila, Pemuda Pancasila, Sarjana Pancasila dst, di Sumut dan Kota Medan, dengan visi misi menjaga tetap utuh tegaknya 4 Pilar Kebangsaan. Ratu Aminah Hidahat menerangkan, awalnya pada tahun 1959, IPKI membentuk Pemuda Patriotik. Dan pada tahun 1960 dalam kongres pertama IPKI di Lembang-Bandung, Pemuda Patriotik berubah nama menjadi Pemuda Pancasila.

    Juni 1963: MY. Efendi Nasution dilantik menjadi Ketua Wilayah Pemuda Pancasila Sumut di Balai Selekta Jl. Listrik Medan(saat ini lapangan kosong disebelah Gedung Pendam I/ BB), saya yang tidak hadir dalam acara pelantikan tadi, kemudian ditunjuk menjadi Ketua Kubu Pancasila Sumut merangkap Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan oleh Kerani Bukit dan Kosen Cokrosentono. Dengan kantor di Jl. Veteran-dekat Jl. Sutomo. Dan 6 bulan kemudian pindah kekantor di Jl. Sutomo(Pekong Lima) sebagai kantor bersama, di gedung milik Kerani Bukit. Sebagai kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan saya menunjuk pengurus ranting kelurahan pertama Pemuda Pancasila di Medan yakni Ranting Pulo Brayan dipimpin Saibun Usman, kemudian saya menunjuk pengurus kecamatan pertama yakni Medan Barat dipimpin Nikolas Pulungan(pemilik Medan Bioskop, Orion Bioskop dan Orange Biokop). Dibentuk juga Kubu Pancasila unit angkatan darat laut dan udara dipimpin Anton Nasution.

    Untuk memperkuat organisasi Kubu Pancasila Sumut dan Pemuda Pancasila Sumut, saya tempatkan orang-orang anggota Pemuda Pancasila dan Kubu Pancasila di bioskop-bioskop sebagai pekerjanya, seperti menjadi Acting Manajer- Supervisor-atau Mandor Besar, yaitu: Bioskop Majestik-Kelly, Bioskop Rex-Dastagor Lubis, Bioskop Deli -Abdullah Teeng dan Syarbainin Tanjung (Ten), Medan Bioskop-Rosiman(pengamanan Medan Bioskop saya ambil alih dari kelompok pemuda Jl. Buntu-PJKA yang saat itu dipimpin Adong), Bioskop Cathay-Barik dan Amran YS(pengamanan Cathay saya ambil alih dari Manis Sembiring dkk), Bioskop Orion-Dahlan, Bioskop Morning-Bakti Lubis, Bioskop Kok Tay-Jep(seorang Pemuda Minang yang biasa kami panggil Jepang), Bioskop Kapitol-Witchin, Bioskop Astanaria-Dame. Hampir setiap malam, saya, Fendi Keling dan Dastagor Lubis menyempatkan diri berbincang perkembangan terakhir Sumut dan Medan, diruangan atas belakang gedung bioskop Rex-Ria(saat ini sebuah restoran didepan gedung UNILAND Medan), sesekali teman Fendi bernama Sahat Gurning bergabung dalam pembicaraan kami.

    17 Agustus 1964: Terjadi bentrok fisik pertama antara massa Pemuda Pancasila dengan Pemuda Rakyat dalam peringatan HUT RI, saya tidak terima hardikan Wakil Ketua Pemuda Rakyat Sumut-Hamid yang memerintahkan agar Pemuda Pancasila berbaris dalam parit, sebab lapangan menurutnya hanya untuk PKI dan ormasnya. Hamid kemudian melakukan propaganda dengan melapor kekantor Kodim dan PM, bahwa Pemuda Pancasila yang saya pimpin berteriak-teriak minta PKI dan ormasnya dibubarkan. Sesuatu yang mustahil karena pada saat itu kami hanya berjumlah 40 orang, diantara ribuan massa PKI yang memenuhi Lapangan Benteng. Saya ditahan Pasi I Kodim Medan Kapten Datuk Akhtar B dan wakilnya Letnan Ramli Markam, namun selang beberapa jam kemudian bebas setelah dijemput Kosen Cokrosentono. Alm. Efendi Nasution yang berjanji akan menyusul saat kami bergerak dari kantor IPKI Sutomo menuju Lapangan Benteng karena ada urusan partai, hingga selesai acara tidak hadir. Dari 40 orang anggota Pemuda Pancasila yang ikut parade ini(namanya dicatat dalam buku besar Partai IPKI termasuk MY Efendi Nasution), tidak ada satupun mereka yang jadi narasumber Joshua yang keterangannya dijadikan dasar pembuatan film The Act of Killing. Anggota Pemuda Pancasila yang ikut HUT RI ini yang sebahagian adalah pengurus IPKI antara lain: Lilik(Kp. Keling), Dahlan, Suhemi Tanjung, Syarbaini Tanjung, Abdullah Teeng, Siwadas(setelah Muslim ganti nama menjadi M. Yusuf), Berlin Tobing, Damos, Keriting, ,Rahmad Lubis, Kiting, Bakti Lubis, Yance, Syahruddin Nasution, Saibun Usman, Mamak Isu, Usman Sitohang, Gusar Panggabean(Abang Alm. Olo Panggabean), Witchin, Sarkunen, Dastagor Lubis, Viktor Sipahutar, Lilik(Glugur Bypass), Dana, Nurdin Ritonga, Iskak Idris, Sailan Daly.

    Sejak keributan Lapangan Benteng itu, PKI dan ormasnya terus melakukan provokasi kepada Pemuda Pancasila. Menjelang meletusnya G-30/S, dengan makin seringnya terjadi gesekan antara massa Pemuda Pancasila dengan PKI dan ormasnya, IPKI pada pertengahan 1965 menunjuk Dastagor Lubis sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Setelah peristiwa Bandar Betsi(14 Mei 1965), Pemimpin Redaksi Harian Cahaya Arsyad Noeh melapor jika percetakan Mistika yang terletak disekitar Jl. Pemuda dekat kantor Polisi Sektor Barat, dan mencetak Harian Cahaya akan diserang Pemuda Rakyat, karena media itu adalah media yang pertama memuat tewasnya Pelda Sujono dalam peristiwa Bandar Betsi yang salahsatu tokohnya adalah Wariman. Malam harinya sekitar 5 truk masa Pemuda Rakyat yang datang kelokasi percetakan untuk membakar percetakan Mistika berhasil kami halau, namun kepada Polisi Sektor Barat yang dipimpin Ramses Sihombing, mereka melapor jika saya memimpin masa Pemuda Pancasila mengejar dan memukuli mereka seraya minta PKI dibubarkan. Saya sempat ditahan satu malam, dan kembali dijamin oleh Kosen Cokrosentono. Gerah karena saya selalu menggagalkan aksi anarkhinya, PKI kemudian menyerang saya lewat Harian Gotong Royong dan Harapan dalam karikatur Yan Paruhum Lubis  Ucok Majestik  Setan Kota, dengan sketsa diri saya tengah menyembah Jendral AH Nasution yang duduk dikursi kerajaan, serta disamping kanan serta kirinya dikawal Jendral A. Yani dan Jendral Sambas. Setelah hampir 4 hari menyisiri kawasan Kesawan untuk mencari kantor koran dimaksud, akhirnya saya mengobrak-abrik kantor tadi, karena tidak ada satupun yang mengaku bertanggungjawab atas pemuatan karikatur. Sejak peristiwa itu, saya terpaksa mengungsi kerumah Fendi Keling dikawasan Mandala sampai beberapa bulan menjelang meletusnya peristiwa G-30/S, karena rumah saya di Sekip-Petisah-Majestik selalu didatangi patroli polisi yang ingin memberangus saya. Ketika terjadi peralihan pemerintahan, beberapa polisi yang dulunya rutin menyatroni saya, meminta maaf atas peristiwa itu dan mengatakan untunglah saya dapat lolos dari sergapan mereka, karena atasannya saat itu memerintahkan Tembak Ditempat Ucok Majestik.

    29 September 1965 malam: Bakti Lubis di gantung dan disalib massa Pemuda Rakyat di Padang Bulan Way(kini persimpangan S. Parman), Bakti walau luka parah jiwanya berhasil diselamatkan. Sebelumnya, pagi hari saat menyambut Subandrio dilapangan Polonia Medan kami, sempat meneriakkan yel-yel Hidup Pancasila kepada Subandrio di Lapangan Udara Polonia.

    30 September – 1 Oktober 1065 terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta.

    Setelah aksi penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Pemuda Pancasila yang ikut bersama-sama dengan elemen masyarakat, pemuda, pelajar dan minta agar massa PKI menyerah dan membubarkan diri, makin sering terlibat kontak fisik dengan PKI dan masanya. Saya mencatat sejak 1964 hingga akhir 1965, pengurus dan kader Pemuda Pancasila yang wafat dibantai PKI sebanyak 9 orang, Mereka yang wafat adalah: M. Nawi Harahap(diabadikan sebagai nama jalan di Medan). Nawi, ditembak Buyung Jafar saat melintasi kediaman aktifis onderbouw PKI ini dikawasan Jl. Halat. Buyung usai melakukan penembakan dengan senapan berhasil melarikan diri. Hasanuddin, tewas di kawasan Kampung Baru saat rombongan Pemuda Pancasila dicegat Pemuda Rakyat.Yusril DS tewas dibacok saat berada disekitar kawasan Glugur dekat sebuah asrama militer. Mobil Willys yang saya kenderai bersama Raja Ganyang Damanik dan Damos, kacanya pecah karena hantaman batu dan benda keras dari massa Pemuda Rakyat. Saya turun kelokasi itu karena pimpinan Pemuda Pancasila disana, Sahat Gurning minta bantuan karena massa Pemuda Pancasila dikeroyok konsentrasi massa Pemuda Rakyat didaerah itu. Abdul Rahim Siregar, tewas di Kawasan Menteng saat rombongan kami melewati kawasan ini. Kaca mobil Willys saya kembali pecah dihantam peluru senapan Pemuda Rakyat. Rustam Efendi Koto dan Suwardi, tewas diserang massa Pemuda Rakyat dikawasan Lr. Gino, dr. med. Adilin Prawiranegara dan M. Yacub, tewas saat demo ke Kampung Kolam. Dan terakhir Ibrahim Umar kader Pemuda Pancasila yang juga anggota IPTR/Aceh Sepakat tewas saat demo Konsulat RRC di Medan.

    Setelah berhasil meminta massa PKI di belakang kawasan Kebun Bunga menyerah, massa Pemuda Pancasila kembali memimpin masa yang anti Komunis untuk demo kekantor SOBSI di Jl. Padang Bulan Way(kini Sp. Iskandar Muda). Masa PKI yang lari untuk bertahan dilantai 2 gedung itu, melempari kami massa demo dengan benda keras seperti batu, kayu bahkan tombak. Dalam tawuran ini, 11 orang anggota Pemuda Pancasila mengalami luka berat dan ringan. Pimpinan masa PKI, Zakir Soobo yang melihat anggotanya dikurung rapatnya pendemo yang berada dibahagian bawah gedung, turun kelantai bawah, sambil menggigit telunjuknya yang dibengkokkan(lambang Palu dan Arit), Zakir yang pegawai Pertamanan Kota Medan dan direncanakan bakal menjadi Walikota Medan bila revolusi berhasil sempat berteriak kepada saya, “Kau pikir sudah menang kau Cok”. Zakir Soobo tewas dalam tawuran ini, sementara kantor kami duduki. Usai demo, massa PKI yang menyerah kami serahkan kepada Datuk Akhtar B dan Ramli Markam yang datang kelokasi kejadian, setelah demo selesai. Setelah itu hingga seminggu setelah demo kami berkemah digedung itu. Hamid, Wakil Ketua Pemuda Rakyat yang kami temui di Gedung SOBSI ini, malam harinya usai demo menyerahkan dokumen propaganda PKI, yang dikubur dihalaman belakang kantor. Diantara tumpukan dokumen, ada terlihat satu berkas yang berisi tulisan, =. CGMI  VS HMI, -. Pemuda Rakyat  VS Pemuda Pancasila, -. Gerwani  VS Wanita Muslimin; -. Masuki lembaga pemerintahan dan partai-partai serta lancarkan politik Divide Et Impera; -. Lakukan segala cara untuk merebut kembali kekuasaan dengan merebut posisi-posisi penting birokrasi pemerintahan dan angkatan bersenjata; -. Ciptakan krisis kepercayaan kepada pemerintah, miskinkan rakyat, dan bila gagal jika terpaksa lakukan langkah penyelamatan(Strategi Survival) agar tidak hancur total. Seluruh dokumen yang disimpan dalam sebuah peti besi itu, kemudian saya serahkan kepada Kapten Datuk Akhtar B dan Letnan Ramli Markam.(versi Komnas HAM selain Zakir Soobo, tewas 2 orang penjaga kantor, dan kantor dibakar. Faktanya yang tewas adalah Zakir, sementara kantor masih ada hingga sekitar tahun 2004 jadi tidak benar terjadi pembakaran. Gedung lantas dijadikan kantor oleh beberapa organisasi seperti kantor Warakawuri, Pepabri, bahkan Perwalian Gereja Indonesia Sumut. Barulah pada akhir tahun 2004 kantor itu dipagari seng, dan beberapa tahun kemudian bangunan yang ada dalam pagar seng telah rata dengan tanah dirubuhkan pengembang)

    24 Oktober 1965: Rosiman bersama Rahmat Lubis mendatangi saya saat berada di Deli Bioskop, mereka menyampaikan bahwa Bang Fendi ingin bicara dirumahnya. Dalam pertemuan dengan Fendi di Mandala, Fendi mengatakan besok ada aksi masa ke Kampung Kolam, perkebunan terlantar yang menjadi basis para petinggi PKI, seperti Wariman(tokoh Pemuda Rakyat yang terlibat Bandar Betsi di Simalungun). Selain saya dan Fendi, terlihat beberapa teman Fendi mendampinginya, seperti Rosiman, Rahmat Lubis dan Arifin Labi-labi. Disepakati demo ke Kampung Kolam akan dilakukan lewat 3 jurusan, dengan massa dipimpin Fendi, massa yang saya pimpin, dan massa yang dipimpin tokoh masyarakat disekitar kawasan Tembung. Besok sorenya ketika berada dikawasan Kampung Kolam dan konsolidasi, kami ketahui Adlin Prawiranegara dan M. Yacub tidak ada dalam barisan. Saat konsolidasi itu, selain beberapa teman yang selalu mendampingi Fendi diatas, beberapa teman Fendi lainnya seperti Johan, Barik, Arifin, Mat Jali dan Buyung ada disekitar Fendi(namun saya tidak melihat satupun sumber Joshua Oppenheimer untuk filmnya dalam demo itu berada di Kampung Kolam). Adlin dan M. Yacub, kami temukan 5 hari kemudian setelah ditunjukkan pengurus Pemuda Rakyat yang mengetahui tempat penguburan jenazah mereka. Jenazah dibenam kedalam rawa(saat ini persis dibawah tugu peringatan Kampung Kolam). Saat ditemukan, kondisi keduanya mengenaskan karena bahagian mata dan bahagian kemaluan sudah tidak berada ditempatnya akibat penganiayaan. Jenazah keduanya, diikat dengan pemberat montik(roda spoor perkebunan untuk pengangkutan barang), lalu bahagian atasnya ditimbuni sampah, kemudian diletakkan bangkai kambing, serta ditancapkan Pohon Pisang. Massa PKI yang menyerah dalam aksi demo ini, kemudian kami serahkan kepada Letkol. RM. Soekardi yang datang bersama pasukan malam harinya setelah massa PKI menyerahkan diri.

    Setelah penculikan dan pembunuhan jendral di Jakarta, Radio Peking terus menyerang mereka yang anti komunis dengan berbagai hujatan, makian dan propaganda lewat siaran berbahasa Indonesia Kami yang rutin setiap malamnya menyimak sumpah serapah itu dari siaran radio di rumah Dana di Jl. Mahkamah, atau rumah Kuteh Sembiring di Jl. Padang Bulan, berkordinasi untuk mengadakan demo ke kantor Konsulat RRC di Jl. Ir. Juanda Medan. Ketika massa demo dari berbagai organisasi massa dan pemuda tiba dilokasi, pendemo tidak dapat mendekati konsulat yang telah dikawal ketat ratusan aparat militer kita. Massa kemudian dikonsentrasikan di seberang lapangan, yang berbatasan dengan jalan kecil dan dipenuhi tentara kita. Karena terus mendesak agar petisi kami diterima, tentara kita yang menjaga aksi demo kemudian berusaha menemui tentara RRC yang menjaga konsulat, dan berada dibalik pintu gerbang konsulat. Saya, Drajat Hasibuan, Parlin Pribadi Hutabarat, dan Ibrahim Umar kemudian maju mewakili kelompok masing-masing, saat tentara kita minta adanya perwakilan massa demo. “Keamanan tuan-tuan kami jamin”, begitu ucapan militer kita kepada militer RRC yang menjaga konsulat, minta dibukakan pintu untuk menerima petisi kami. Penjaga konsulat yang tidak mau membuka pintu gerbang dalam bahasa Indonesia fasih malah mengatakan, “Ini negara kami, kalau mau masuk minta izin Ketua Mao”, lalu 3 tentera RRC tadi segera bergegas melintasi halaman konsulat menuju kedalam gedung konsulat. Saya dan 3 orang lainnya yang merasa kecewa atas sikap militer RRC itu langsung memanjat gerbang konsulat untuk memasuki halaman agar petisi dapat diterima tentara RRC tadi. Beberapa langkah memasuki halaman, terdengar letusan senjata api. Sejenak kami berpandangan, lalu kami berempat bergegas untuk mencapai teras konsulat. Sekitar 5 langkah berjalan, letusan senjata api kembali terdengar. Kami langsung berjongkok, dan memastikan milter yang tadi menolak membuka gerbang ternyata n telah berada di teras konsulat dengan senapan terhunus tengah membidik kami. Merasa terancam kami segera memanjat pagar agar secepatnya keluar dari halaman konsulat. Sayup masih terdengar teriakan militer kita yang berada diluar pagar konsulat dan berteriak untuk tiarap. Saat itu seluruh tentara kita telah mengambil sikap siaga, berjongkok dengan posisi senapan keatas dan diletakkan diantara kedua lututnya, sedangkan seluruh masa demo yang berada diseberang lapangan terlihat total menidurkan diri ketanah. Parlin dan Drajat begitu sampai diluar pagar segera berbaur dengan massa diseberang lapangan yang tiarap. Sementara saya dan Ibrahim Umar yang belakangan keluar, sambil tetap berjongkok mengendap-endap berlindung dibalik pepohonan yang berada didepan pintu gerbang. Lalu kembali terdengar bunyi letusan senjata untuk yang ketiga kalinya. Setelah tembakan usai saya menoleh kepada Ibrahim yang berada disebelah saya, terlihat dia seperti bersujud-tafakkur. Agak lama saya perhatikan kondisinya itu, karena saya pikir dia masih ketakutan akibat bunyi letusan 3 tembakan tadi. Setelah diperhatikan lagi, saya melihat ada cairan putih keluar dari hidungnya, seperti orang terkena flu. Karena tetap tak bergerak, Ibrahim saya angkat, saat itulah saya baru melihat ada luka menganga dihagian belakang kepala searah dengan hidung yang mengeluarkan cairan putih tadi. Barulah saya tersadar jika Ibrahim telah Syahid, lantas saya teriakkan “motor”, minta bantuan agar Ibrahim Umar dibawa mobil kerumah sakit. Masa yang kemudian histeris akibat kejadian itu meneriakkan “Ganyang Cina”, kemudian bergerak menuju kelapangan Polonia Medan. Akibatnya 2 etnik turunan yang baru keluar dari Lapangan Udara Polonia jadi korban amuk massa, saat itulah militer penjaga Polonia yang berusaha membubarkan kerumunan massa mengatakan, “Ini warganegara Malaysia, bubar…bubar…!”. Akibat insiden ini Fendi Keling sempat ditanya Bung Karno dan dianggap rasis, tapi Fendi mengatakan anggota Pemuda Pancasila bermacam etnis dan suku, jadi kejadian itu bukan rasis, spontan akibat tewasnya Ibrahim Umar diterjang militer penjaga Konsulat RRC.

    Sebenarnya, sebelum bertemu dengan seluruh narasumbernya dalam The Act of Killing, Joshua sempat beberapa kali tanpa lelah berkunjung kekediaman saya, dia menginformasikan dari Partai Buruh diluar negeri yang jadi sumbernya, hanya ada 2 nama yang dapat dimintai keterangan yakni Fendi Keling dan Ucok Majestik. Kepada saya Joshua mengiming-imingi akan dibuatkan film tentang heroisme sejarah penumpasan PKI di Sumatra Utara, khususnya peristiwa Demo Kampung Kolam dengan tema Samson dan Delilah. Saya menjawab, jika ingin membuat film jangan khusus Demo Kampung Kolam, tapi ringkasan berdirinya Pemuda Pancasila di Sumut dan Medan hingga terjadinya aksi massa minta pembubaran PKI dengan puncaknya Demo Kampung Kolam. Karena saya tetap ngotot kepada syarat itu, Joshua tidak berani lagi muncul dan beralih kepada para sumber yang keterangannya dijadikan Film The Act of Killing(dalam situsnya The Act of Killing, sumber Joshua berdalih saya minta bayaran yang cukup mahal, sebuah kilah yang tidak dapat diterima akal tentang kegagalannya mendapatkan keterangan saya. Bila melihat kemampuan Joshua selama beberapa tahun di Medan, termasuk menggiring para sumbernya untuk diwawancarai TV lokal). Dan itu membuktikan jika sejak awal pembuatan filmnya, Joshua hanya ingin membuat propaganda tentang Pembantaian Massal dan Pelanggaran HAM, bukan ingin mengangkat kondisi nyata yang terjadi saat itu. Faktanya, Joshua telah berhasil mendapatkan narasumber utama(mahkota), yakni saya H. Yan Paruhum Lubis, tapi karena keterangan saya tidak sesuai selera propagandanya. Joshua kemudian beralih kepada sumber-sumber lain, yang bercampur imajinasi, diragukan keberadaan dan eksistensi serta kemampuan untuk mengingat sejarah awal Pemuda Pancasila Kota Medan dan Sumatra Utara, ataupun rentetan peristiwa yang terjadi kala itu.

    Fakta dan data-data yang yang jadi pengalaman hidup dan telah saya jalani ini, terjadi jauh sebelum peralihan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru, jika ada pemikiran yang menganggap saya ataupun mereka yang menentang komunis adalah korban propaganda Orde Baru. Rasanya perlu dilakukan penelitian ulang, dengan berkunjung ke Sumatra Utara dan Kota Medan. Saat ini banyak yang bicara pentingnya menjaga 4 Pilar Kebangsaan; NKRI Harga Mati; dst. Padahal sebelumnya kami Pemuda Pancasila sudah berkorban dan mati untuk itu. Itulah fakta sejarah, bukan propaganda Orde Baru. Termasuk dokumen yang saya peroleh dari tangan Hamid, seluruhnya fakta. Jika Majalah Tempo dan group medianya dapat menembus dokumen-dokumen yang dulunya saya serahkan kepada militer, lebih baik hal itu difinalkan agar dapat menembusnya, daripada memuat analisa-analisa dan propaganda mereka yang sama sekali tidak berada dilapangan saat itu, namun bicara atas kepentingan sesaat semata jadi alat propaganda dengan menjual HAM atau Pembantaian Massal.

    Overste Maliki, Komandan Brigif VII Rimba Raya, saat saya kunjungi di tahanan Sukamulia, dan berada dalam satu ruangan dengan Jalaluddin Yusuf Nasution-Paris Pardede(SOBSI Sumut), Maruli Siahaan, dan tokoh-tokoh lain, dengan latar belakang Palu Arit yang mereka gambar dalam ruangan tahanan sambil menunjukkan telunjuknya yang dibengkokkan(simbol Palu Arit)meneriakkan kepada saya, “Kau pikir sudah menang, Cok”, perkataan yang sama persis dengan ucapan Zakir Soobo saat digedung SOBSI-Iskandar Muda. Itu menunjukkan Pemuda Pancasila adalah musuh abadi Komunis. Segaris bila bila melihat historis sejarah Ratu Aminah Hidayat-Jendral AH Nasution-IPKI dan Pemuda Pancasila.

    Saya sarankan untuk dapat mencatat kondisi masyarakat Sumatra Utara khususnya Kota Medan ketika bangkit bersatu melawan Komunis, Redaksi Majalah Tempo harus menengok kebelakang, bukan hanya kepada Peristiwa Muso di Madiun, tapi jauh sebelum itu yakni Revolusi Sosial di Sumatra Timur, yang berakibat tewasnya tokoh-tokoh masyarakat, termasuk Amir Hamzah yang disebut Komunis adalah kelompok feodal.

    Pengalaman hidup yang terpaksa saya ungkap kepada Majalah Tempo untuk menghadapi propaganda Joshua Oppenheimer, mengingatkan saya meskipun PKI telah bubar tapi Komunis dan syahwatnya untuk berkuasa meskipun lewat merebut kekuasaan, tidak pernah mati di republik ini. Hal itu pula yang menjawab, mengapa saya sempat ditahan Overste Maliki saat dia masih menjadi Komandan Brigif VII Rimba Raya, atau mengapa saya ditahan Gubernur saat itu Brigjen Ulung Sitepu, hanya karena saya mendemo beliau terkait masalah anggaran kakus(dimasa itu ada proyek toilet umum di Pusat Pasar, dimana anggarannya habis namun toiletnya tak pernah ada). Seminggu saya ditahan atas perintah Ulung Sitepu, dan baru bebas setelah Alm. Kosen Cokrosentono yang mengajar tentang Idiologi Pancasila di kantor-kantor militer dan sipil di era Orde Lama itu menjamin dan membebaskan saya. Belakangan baru ketahuan jika Ulung adalah kader Komunis di Sumatra Utara, dan itu menjawab mengapa dia begitu benci kepada saya. Jadi tolong direnungkan, bagaimana bisa santai bila soal idiologi, apalagi bila idiologi itu Komunis. Karena saya dan kawan-kawan telah menjalani masa-masa sulit dan pahit itu.

    Jika Joshua berdasarkan imajinasinya dan imajinasi sumbernya menganggap Pemuda Pancasila adalah alat dari militer, dapat saya kemukan pengalaman saat terjadi kerusuhan yang dikenal dengan “Peristiwa Golden” di Medan. Insiden ini oleh seorang tokoh di Jakarta beberapa tahun lalu ditulis dalam memoarnya dengan menyebutkan saya mati dalam peristiwa itu hingga munculah sosok Olo Panggabean. Dan saya bersyukur, dapat menuntaskan kesalahpahaman itu dengan penulis bukunya secara kekeluargaan. Dan saya menjelaskan, bukan hanya Olo, bahkan seluruh keluarganya yang lain berhubungan baik dengan saya, jadi darimana saya bisa bentrok dengan adik-adik saya itu di Sekip. Dapat saya informasikan, dalam “Peristiwa Golden” ini, beberapa tokoh Pemuda Pancasila bahkan sempat ditahan di Penjara Jl. Gandhi. Tidak ada seorangpun yang dapat menuntaskan masalah itu, hingga kawan-kawan, adik-adik saya di Pemuda Pancasila dalam era Orde Baru ini, harus mendekam dalam tahanan hingga sakit. Saya dan beberapa teman lain yang mengetahui peristiwa tadi kemudian menghadap Raja Inal Siregar ketika itu Kasdam I/BB. Saat itu Raja dihadapan saya, Zulkarnain Rospati, Amril YS, Husni Malik setengah menghardik mengatakan, “Jangan diurus itu, hanya membuat onar dan kerusuhan saja”. Raja lalu agak melunak dan sedikit merubah sikapnya ketika saya katakan, “Janganlah begitu, PKI saja diampuni”. Dan setelah itu atas saran Raja diadakanlah perjanjian antara teman-teman tadi dengan Olo Panggabean di Kodim Medan dengan konsekwensi siapa yang memulai lebih dahulu akan diambil tindakan secara hukum. Kejadian ini dapat menginformasikan bahwa jika benar ada kolaborasi antara militer dengan Pemuda Pancasila, khususnya dalam propaganda Joshua Oppenheimer yang penuh imajinasi dirinya dan para sumbernya tentang Pembantaian Massal itu(benang merah militer dan Pemuda Pancasila). Tentunya kawan-kawan pengurus Pemuda Pancasila tadi tidak perlu mendekam sampai sakit di Jl. Gandhi dalam peristiwa sekitar tahun 1983-1984 itu.

    Dari kronologis yang saya paparkan, Redaksi Majalah Tempo kiranya mendapat gambaran utuh kondisi yang terjadi. Dan jangan berdalih, berdasarkan pengakuan seseorang ataupun para sumber Joshua dalam Filmnya The Act of Killing. Apalagi yang disiarkan dalam pemberitaan adalah utuh tanpa samaran penulisan nama organisasi Pemuda Pancasila dan keberadaan panggung bioskop saat itu, dua dunia yang saya geluti saat itu.

    Saya tekankan, sebagai Pinisepuh Pemuda Pancasila, dan satu-satunya pendiri Pemuda Pancasila di Sumut dan Kota Medan yang masih hidup, selain Alm. Kosen Cokrosentono dan Alm. HMY Efendi Nasution, keterangan ataupun pengakuan sumber Joshua bertolak belakang, tidak objektif, bias, dan tidak sejalan ataupun persis dengan pengalaman hidup yang saya jalani, sejak ikut mendirikan Pemuda Pancasila Sumut, Kubu Pancasila Sumut dan Kordinator Pemuda Pancasila Kota Medan.

    Terakhir saya hanya mengingatkan Redaksi Majalah Tempo, jika terkait idiologi khususnya Komunis, bagaimana bisa santai saja. 9 orang pengurus dan kader Pemuda Pancasila tewas dibantai Komunis, diluar para ulama dan tokoh masyarakat di Sumatra Utara.

    Atas kerjasama Redaksi Majalah Tempo dan group medianya memuat Hak Jawab dan Bantahan ini saya ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan demokrasi yang kita bangun bersama setelah era reformasi, dapat kita jaga bersama untuk Indonesia yang lebih baik dimasa mendatang. Semoga……..

    Hormat Saya

    H. Yan Paruhum Lubis
    alias Ucok Majestik

    ( )
    Tembusan:
    1. Dewan Pers di Jakarta
    2. KOMNAS HAM di Jakarta
    3. Komisi Penyiaran di Jakarta
    4. Komisi Informasi di Jakarta
    5. Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila di Jakarta
    6. Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasia Sumatra Utara di Medan
    7. Pimpinan Redaksi Media Massa Cetak dan Elektronik baik Lokal dan Nasional di Jakarta dan Medan
    8. Pertinggal.

  8. Hari ini silahkan ada memuja data-data yang diberikan Joshua Oppenheimer, tapi besok jangan menangis, meratap bahkan sampai bunuh diri, jika kepala anda nyatanya hanya berisi khayalan, fantasi dan euforia, Joshua Oppenheimer dan para sumbernya. Silahkan anda baca Tempo Edisi 22-28 Oktober 2012. Redaksi yang terpedaya oleh Joshua, bahkan hanya beralasan membuat pemberitaan bersumber Film dan Wawancara dengan Joshua

  9. Cakar Ayam says:

    Duilee segitunya Oom Alfiannur Syafitri panjang-pajang kopi-paste suratnya Ucok Mayestik. Emang kenapa Oom? Situ yang bikinin suratnya? Emang dikiranya kalo panjangnya kayak gitu trus ada yang baca? Tulisan udah kagak ada isinya, bahasannya berantakan, siapa yang mo baca Oom?

    Ngapain meratap bunuh diri? Lu pikir aja dong perbandingan antara Joshua yang risetnya sepuluh tahun lebih, majalah Tempo yang reputasinya terjaga, sama elu… yaaaah…. mending elu aja yang bunuh diri.

    Lagian ya, Alfian, lu belon nonton filmnya ‘kan? Sok tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s