Sungai Batang Ayumi dalam Bingkaiku


na ngen aek sajo do lakna karejomu rahmaaat, maloja au ngen pasar anggo ho lek namarlubuk sajo

alaleee umak, inda marlubuk be au umak,ulang gimbal umak au rap dot sipatu ni bapak leh, accit umakkk

Begitulah sedikit adegan yang kerap kali terjadi kala petang tiba. Sepatu, sandal, hingga rotan adalah beberapa alat yang sangat ramah dengan tubuh saya tiap kali mandi di sungai. Selain dijadikan tempat marlubuk (mandi di lubuk), sungai batang ayumi sering juga kami jadikan sebagai tempat untuk menghasilkan uang.

            Adalah saya, mora, ricky, gian, aspan, husein, leman, dan aswad telah ditasbihkan menjadi beberapa makhluk penghuni lubuk ini. Ke-delapan bocah ingusan ini mempunyai hobi yang sama, yaitu sepak bola. Terlahir dari kondisi ekonomi menengah ke bawah, maka kami tidak terlalu mengandalkan orangtua untuk membeli bola. Kami selalu mempunyai inisiatif tiap kali bola yang kami gunakan rusak atau bocor. Setiap sore kami akan pergi ke sungai ini untuk menambang batu ataupun pasir yang bisa dijual. Saya masih ingat dulu, pasir 1 belek (kaleng roti yang besar) dihargai 700 rupiah dan batu 1 kubik (*&%^(#!#>) dihargai 30-40 ribu. Bola kaki (nomor 5) kala itu masih berada di kisaran 20-25 ribu. Jadi duit sisa dari pembelian bola kaki itu akan kami gunakan untuk makan mie duru (mie instant seduh).

Gambar

            Memancing adalah kegiatan yang membosankan buat kami, kecuali teman kami yang bernama husein dan leman. Both of them are true angler. Karena kami sering marsak (gak suka) melihat keahlian mereka, maka kami orang-oranng yang tidak mempunyai kesabaran pun lebih memilih untuk mandurung. Mandurung adalah cara menangkap ikan yang paling manusiawi dibandingkan dengan kail, menjala, nyetrum apalagi pukat. Dibutuhkan sebuah kain dan minimal tiga orang untuk menjalankan aktifitas tradisional ini. Dua orang berada di sisi kain yang berbeda (saling berhadapan) dan mencoba untuk mandurung (mengambil) ikan yang biasanya ada di semak belukar, rawa-rawa, atau di balik batu. Satu orang lagi bertugas untuk mengambil hasil yang didapat di atas kain ini. Apakah masih ada yang lebih manusiawi dari mandurung?

            Kami pernah mandurung dari sungai batang ayumi kampung marancar ini menuju sitamiang, kampung melayu gang raya, hingga tanggal. Semuanya itu kami lakukan berdelapan dan tentunya dengan kondisi naked, maklumlah karena kami saat itu masih bocah ingusan yang belum tahu apa itu ini, apa ini itu. Tidak ada cara lain menikmati hasil mandurung ini kecuali dengan memanggang ikan dan udang yang kami dapat. Semuanya kami makan tanpa nasi dan itu bisa membuat kenyang perut setelah 3 jam berjalan dari kampung ke kampung menelusuri sungai dengan kondisi memprihatinkan, jadi bisa bayangkan betapa banyak hasil tangkapan kami dibandingkan dengan memancing yang membosankan 

            Tidak begitu saja kami menikmati keindahan sungai yang membelah kota Padangsidimpuan menjadi dua ini, kami juga sering menghabiskan waktu malam minggu dengan membuat api unggun di sekitaran sungai sambil bermain gitar hingga jam 10 malam (orangtua kami saat itu pasti sangat keblinger). Mencuri ubi di kebun sepanjang sungai atau mencuri ayam penduduk adalah beberapa kebiasaan yang sebenarnya tidak perlu saya ceritakan disini. Bagaimana tidak, kayubakar untuk api unggun saja adalah bahan cilok-an kami (tradisi ini berlangsung ketika kami masih duduk di bangku sekolah dasar, jadi harap maklum red). Pernah kami hampir ketahuan oleh si empunya kebun (biasa kami panggil dengan panggilan nenek oke) ketika kami sedang mencuri ubi miliknya pada waktu sore hari. Untung lah nenek yang satu ini sudah berumur, jadi lari bukanlah pilihan yang kami ambil melainkan semangat yang menjulang tinggi agar aksi ubi robbing ini berhasil dengan kemenangan absolute ada di tangan kami. Kelapa, papaya hingga kayu bakar yang sering ia kumpulkan di kebunnya selalu menjadi sasaran empuk kami untuk akhir pekan yang menyenangkan. Hingga akhir hayat beliau, kami belum sempat memminta maaf atas semua kenakalan masa kanak-kanak dulu. Semoga nenek oke diterima di sisi Allah SWT. Amin.

            Sungai ini dulunya adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan Allah kepada penduduk kampong marancar khususnya gang pedati. Sungai ini tidak pernah sepi oleh penduduk mulai subuh hingga magrib menjelang. Asal muasal nama gang pedati juga adalah banyaknya pedati untuk mengangkut pasir atau batu dari sungai di era 60-80 an. Kata nenek saya, dulu penduduk masih menggunakan perahu untuk mengangkut pasir dari hulu ke hilir. Ketika hujan tiba, maka ulu ni aek pun mangalir dari arah tanggal ini dan akan sangat banyak pemuda-pemuda yang melompat dari jembatan kampung marancar-sitamiang untuk menikmati derasnya air. Namun di masa saya, ketika hujan tiba maka marsiayut dari kamcar menuju rambin ini menjadi olahraga adu nyali. Marsiayut adalah mengalir bersama air dari hulu ke hilir bisa pake ban bekas atau batang pisang dan batang pisang menjadi opsi yang selalu saya ambil. Tungir  adalah resiko bagi mereka yang menjatuhkan pilihan pada batang pisang dan tungiron adalah hal yang biasa bagi saya.

 Masih segar sekali di ingatan saya, di jalan menuju sungai dari arah gang family (sekarang merger menjadi gang pedati) terdapat sebuah musola yang lumayan besar mengingat masyarakat kampung marancar yang madani dan islami. Ketika azan subuh selesai, maka masyarakat pun berbondong-bondong menuju sungai untuk berbagai kegiatan seperti menyuci, mandi, mengambil air untuk dimasak atau untuk stock sepanjang hari. Saya sering sekali menemani umak (ibu) menyuci di sungai. Ketika ibu saya sedang bersibuk ria denga cuciannya, maka disitulah saya belajar berenang. Begitu indah kenangan yang satu ini.

           Gambar Kondisi sangat kontras dengan apa yang saya deskripsikan sebelumnya. Sungai batang ayumi mengalami dekadensi fungsi seiring dengan pendangkalan sungai yang disebabkan beberapa hal seperti pembuangan sampah sembarangan hingga pengambilan pasir dan batu yang berlebihan dari sungai. Sungguh sangat ironis memang. Sungai yang berhulu dari gunung lubuk raya ini sekarang layaknya parit yang dialiri air dengan kualitas air yang sangat rendah. Sungai batang ayumi sekarang hanyalah puing-puing kenangan yang terkikis oleh erosi zaman. Tulisan ini pun saya buat untuk mengenang kembali keindahan sungai yang memberikanku jutaan pengalaman. Ini lah saya sekarang, seorang anak yang dibesarkan sungai bermimpi untuk melanjutkan study ke finlandia.

 

             

About rahmatnawisiregar

tidak ada sesuatu yang spesial dalam diri ini. masih begitu banyak hal yang perlu saya pelajari. menempatkan diri dalam kondisi kritis, keluar dari zona kenyamanan yang ada, dan yakin bahwa semesta akan mendukung
This entry was posted in padangsidimpuan, Socialife. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sungai Batang Ayumi dalam Bingkaiku

  1. begitu jauh perubahannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s