TRANSFORMASI KEBAHASAAN DI MASYARAKAT TAPANULI BAG SELATAN


Akan menjadi sesuatu yang dianggap tabu ketika kita mundur beberapa dekade yang lalu dan mendapati seorang pemuda Mandailing – Angkola yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan karena kurangnya rasa nasionalis, namun melekatnya bahasa daerah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Tapanuli khususnya bagian selatan yang meliputi daerah Madina, Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Palas, hingga Paluta.

Bangsa batak Mandailing yang hidup di selatan dan bangsa batak Angkola di daerah utara adalah dua suku besar yang mendiami daerah Tabagsel. Walau identik dan mendiami daerah yang berdekatan, kedua suku bangsa ini memiliki perbedaan yang sebenarnya signifikan dalam bahasa khususnya logat. Bahasa mandailing yang mewarnai kehidupan masyarakat Panyabungan hingga perbatasan Sumut-Sumbar lebih lembut dan mendayu. Sedangkan batak Angkola sendiri mempunyai perbedaan yang berbeda di setiap wilayahnya. Sebagai contoh, Padangsidimpuan yang merupakan wilayah batak Angkola memiliki logat yang lebih datar, dimana warga Padangbolak memiliki logat yang lebih tinggi, kasar, dan mendekati bahasa batak toba. Jika kita lihat secara demographi, logat bahasa Tapanuli bagian selatan dapat disimpulkan dalam grafik di bawah ini.

Gambar

Menilik pada grafik di atas, kita bisa melihat bagaimana keragaman bahasa yang mendiami daerah Tabagsel dan seharusnya ini menjadi salah satu unsur kebudayaan yang harus kita pelihara sebagai salah satu kekayaan bangsa ini. Apalagi budaya sudah saatnya menjadi benteng untuk mempertahankan jati diri bangsa dalam menghadapi era globalisasi yang tidak bisa kita katakan tidak pada dominasinya.

Tulisan ini saya muat akan kekhawatiran mulai hilangnya bahasa daerah dari bumi dalihan na tolu ini. Saya sangat terperangah ketika saya pulang ke sidimpuan dan mendapati semua warga telah menggunakan bahasa Indonesia dalam setia sendi kehidupan. Tidak salah memang. Jika kita ambil sisi positifnya, warga padangsidimpuan tidak akan gamang lagi menggunakan bahasa Indonesia ketika beranjak ke kota lain. Hal ini memang pernah saya alami. Sewaktu SD dulu, saya diajak oleh ayah saya ke Medan dan lidah saya begitu kelu ketika mulai menggunakan bahasa Indonesia selama beberapa hari disana.

Namun dibalik fenomena ini, kita bisa ambil benang merah bahwa tidak seharusnya warga tabagsel malu atau pun gengsi ketika menggunakan bahasa daerah di rantau orang, terlebih di tanah kelahiran sendiri.

Jika kita telaah ada beberapa faktor yang menyebabkan hilangnya bahasa daerah, yaitu :

  1. Pride, yaitu hilangnya rasa bangga akan menggunakan bahasa daerah dan lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini biasanya ditemukan pada diri seorang remaja yang disebabkan oleh socialifenya.
  2. Doktrinisasi, dimana para orang tua sekarang ini lebih memilih mendoktrin putra-putri nya dengan bahasa Indonesia.
  3. Pendidikan, sektor ini memegang peranan yang sangat vital. Tidak banyak pelajaran tentang budaya yang dikembangkan khususnya penggunaan bahasa daerah.
  4. Logat, kekhawatiran akan logat yang masih kental jika jarang menggunakan bahasa Indonesia menjadi pemicu lainnya. Padahal logat dalam bahasa Indonesia akan menambah khazanah kekayaan linguistickita. Lihatlah orang papua yang tidak malu menggunakan logat papua nya ketika sedang berbicara. Begitu juga dengan logat sunda, bali, betawi, batak toba dan seharusnya rakyat Indonesia juga mulai mengenal logat mandailing serta angkola.

Perhatian yang lebih terhadap 4 faktor di atas bisa menjadi acuan bagi kita jika tidak mau bahasa batak Mandailing-angkola hilang dari Tabagsel seperti bahasa suku Oseng di Banyuwangi dan lebih 741 bahasa daerah yang lain yang telah hilang.

About rahmatnawisiregar

tidak ada sesuatu yang spesial dalam diri ini. masih begitu banyak hal yang perlu saya pelajari. menempatkan diri dalam kondisi kritis, keluar dari zona kenyamanan yang ada, dan yakin bahwa semesta akan mendukung
This entry was posted in padangsidimpuan, pendidikan, Socialife. Bookmark the permalink.

4 Responses to TRANSFORMASI KEBAHASAAN DI MASYARAKAT TAPANULI BAG SELATAN

  1. saya bangga jadi orang batak,, mari kita lestarikan bahasa batak,,,,
    salam kenal da kawan,,

  2. Demi mandukung tulisannon. Madung sewajarna do minimal do blog ni lae on adong tulisan pake bahasa Angkola. Inda bisa ita sekedar marteori sajo, markoar-koar, manulis najanggal di roa tentang bahasa Angkola, anggo naso umuloi ngen ita sendiri.

    Salah satu namagunggulkon bahasai lewat akasara. Anggo leng otil dope bahasai dituliskon, lolot-lolot muli mago dei. Jadi carana sobangga ita namamke bahasa Angkola Mandailing, gari para penulis mamuloina mamake bahasaon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s