tentang diri saya sendiri


BISMILLAH

Begitu sulitnya untuk menulis. Inilah dasar bagi saya untuk memulai catatan di blog ini, sahabat. Dalam berbicara, begitu banyak ide-ide fikiran yang dengan mudahnya bisa saya keluarkan. Namun ketika saya mencoba untuk menuangkan segala ide yang tersimpan dalam benak ini, maka jari – jari ini pun terasa sangat berat untuk mengetik huruf demi huruf yang terangkai dalam sebuah kalimat.

Dua tahun yang lalu, saya mencoba untuk menulis dalam sebuah blog, tapi karena bakat yang kurang dan jam terbang menulis yang masih sangat minim membuat saya berhenti menulis di blog tersebut. Dan tahukan kamu wahai teman? Karena ketidakmampuan saya dalam menulis, di blog tersebut hanya tertuang karya – karya orang lain yang saya muat. Alhasil saya pun menjadi seorang THE REAL PLAGIATOR. Sebuah penyakit hati yang telah merongrong hidup saya selama ini.

Mencoba untuk keluar dari kekelaman masa lalu, sekarang saya mencoba untuk memulai menulis lagi. Mencoba untuk menuangkan segala bentuk fikiran saya ke dalam sebuah catatan.

24 Agustus 1990, tepat pukul 1 siang saya mendendangkan sebuah teriakan penderitaan. Karena pada saat itulah saya pertama kali melihat dunia yang penuh dengan tipu daya ini. Benar apa yang dikatakan oleh seorang pendiri MAPALA UI, Soe Hok Gie “Kebenaran hanya ada di langit, dan dibumi hanyalah bohong.”

Terlahir dengan nama Rahmat Nawi Siregar, saya menghabiskan sebagian masa muda saya di kota Padangsidimpuan, kira-kira 361 km dari medan. Jika di tarik garis lurus antara Medan dan Padang, maka Padangsidimpuan ada di tengah – tengah kedua kota ini.

Menempuh pendidikan dasar di SDN 142419, lalu saya melanjutkan studi di MTsN dan MAN 1 Padangsidimpuan. Sekarang (sampai catatan ini dimuat) saya tercatat sebagai salah satu mahasiswa pendidikan Fisika Universitas Negeri Medan.

FISIKA. Sebuah kata yang membuat kerap kali menjadi sosok antagonis bagi sebagian banyak siswa. Mungkin tanpa ditanya atau kita buat survey sekalipun, kita sudah bisa mengambil hipotesis kenapa Fisika selalu menjadi momok yang menakutkan. Yang paling umum yang kita ketahui adalah Fisika merupakan sekumpulan rumus yang memuakkan sehingga merusak system kerja otak kiri. Tidak ada keindahan sama sekali dari rumus – rumus Bengal tersebut yang bisa memuaskan otak kiri. Sebagai contoh rumus dari massa relativistic nya om Einstein: m =

Waktu duduk di bangku SMA, saya hamper aja  merobekkan gambar Einstein yang ada di kelas kami waktu itu, atau setidaknya menarik kumis si kawan itu yang buat saya sangat geram. Apa maksud rumusnya itu?? Apa?? Memangnya nanti di kehidupan sehari-hari saya dituntut untuk menghapal rumus ini? Hahahah…

Well, selain rumus antah berantah yang tak bermoral itu, hal lain yang membuat siswa sangat senang sekali ketika tidak ada PR Fisika adalah Guru. Guru Fisika sangat identik dengan sosok seorang guru killer. Kenapa? Coba teman – teman perhatikan wajah para tokoh Fisika ( Tanya mbah google ), akan sangat jarang sekali teman-teman lihat wajah Fisikawan yang tersenyum. Itu karena otak mereka dipenuhi oleh fisika itu sendiri tentunya. Tapi menurut saya bukan itu penyebabnya. Melainkan karena belum adanya gaya gaya lebai berfoto pada saat itu. Misalnya fose badan sengaja dibengkokkan, tangan kiri diletakkan di atas perut, lalu tangan kanan mengisyaratkan dua jarinya ( telunjuk dan tengah, ^^V), gigi kuning yang aduhai dipertontokan, lalu dengan peunh percaya dirinya berfoto. Inilah alasan paling rasional kenapa gambar atau foto para fisikawan zaman dulu tidak ada yang tersenyum.

Dua hal tersebut merupakan factor external yang sangat mempengaruhi point of view banyak orang akan fisika. Seperti kata Einstein, semua hal di dunia ini bersifat relative, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Begitu juga dengan Fisika

Lalu kenapa saya memilih jurusan Pendidikan Fisika? Kenapa saya tidak mengambil Fisika Murni?

Selain ingin menguasai dasar Fisika, saya juga ingin bergelut di dunia pendidikan. Saya melihat bagaimana Pendidikan Indonesia sangat jauh di belakang Malaysia atau Singapura, padahal kita memiliki human resource yang tidak diragukan lagi.

Terlalu naïf mungkin jika saya berkata saya mampu menyulap Pendidikan di negeri yang terbentang dari sabang sampai merauke. Namun alangkah bijaknya jika saya tidak tinggal diam melihat anak anak negeri ini mengais rejeki  dari sebuah tong sampah atau teriknya matahari yang membakar kulit mereka di setiap lampu merah.

Pendidikan adalah hak bagi setiap anak negeri, bukan monopoli mereka yang unggul dalam bidang ekonomi. Pendidikan harusnya bukan sebuah kata yang dihargai dengan nilai sekian rupiah. Pendidikan bukan juga sebuah bisnis keluarga yang hanya ingin menerapkan prinsip dasar Ekonomi “modal sekecil-kecilnya, laba sebanyak banyaknya”.

Saya lebih memilih untuk menjadi orang yang ingin berkecimpung di dunia Pendidikan Negeri ini, dari pada sebagai orang yang berkoar koar hingga mulutnya lebar. TALK LESS DO MORE. Bukan mau promosi rokok, tapi slogan ini sangat perlu kita tanamkan di diri kita, bidang apapun yang kita geluti.

Mencoba untuk menjadi sesuatu yang lebih baik. Bukankah hidup adalah perubahan? Kita lah yang menentukan apakah kita masuk ke dalam perubahan konstruktif atau perubahan destruktif?

Negeri kita ini begitu merindukan darah dan semangat segar dari kita para kaum muda, teman…..

 

 

Padamu negeri

Kami berbakti

Kami berjanji

bagimu negeri

Jiwa  raga kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s